Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Yokaiwara



Part 2

“Ayah kenapa? Kita harus tinggal di dalam gua?”

“Nak, gua ini adalah tempat perlindungan kita dan disini akan membuat kita terus aman.”

“Tapi ayah, aku juga ingin pergi keluar gua.”

“Iya nanti ayah akan ajak Nia keluar ya.”

“Iya ayah Nia, mau keluar sama ayah.”

“Ayaahh....”

Larchnia tebangun dari mimpi yang membuatnya mengingat kejadian dahulu saat dia bersama keluarganya. Terlihat raut wajah yang sedih yang menitikan air mata.

“Ada apa nyonya, sepertinya anda tadi berteriak?”

“Tidak ada apa-apa, Jen.”

“Baik nyonya aku permisi dulu.”

Larchnia Belst bangun dan segera berdandan, merias wajahnya, dan merapikan rambutnya. Malam ini Larchnia akan ada tamu yang datang dari ibukota. Dia seorang pejabat kerajaan ibukota. Yang juga melakukan investigasi di Yokaiwara.

Di Suatu Termpat...

“Ah berapa lama lagi perjalanan ke Yokaiwara, Mest?”

“Kira-kira 3-4 jam lagi kita akan sampai.”

“Ah bosaan aku ingin bertemu dengan gadis-gadis aneh itu, yang jarang kulihat di ibukota.”

“Hai Konso, kau harusnya melakukan investigasi mu dengan benar, kita kesana bukan untuk main-main,”

“Huh dasar Mest, padahal sudah kuajak pergi ke yokaiwara tapi kau malah menceramahi ku,”

“Bodoh... kita disini bukan buat main-main.”

“Iya, iya aku tau Mest.”

Di dalam sebuah kereta kuda yang berasal dari kerajaan Oklizof, ada dua orang pemuda yang sedang berbincang. Dia adalah Konso Liguan seorang investigator dari kerajaan dan juga Mest ChefMan, seorang koki yang bekerja di rumah bangsawan Liguan.

“Mest, apakah aku boleh memakan bekal ku.”

“Apa! bukannya kau sudah makan tadi?”

“Aku lapar lagi Mest, ayolah berikan bekal buatanmu Mest.”

“Konso kan sudah kubilang jaga pola makanan mu atau kau akan bertambah gemuk nanti.”

“Tapi makanan yang kau buat selalu enak aku sudah tak tahan untuk memakannya lagi dan lagi.”

“Tidak Konso, aku takut tuan besar marah padaku, karena kau akan terlalu gemuk nanti.”

“Mest pelit.”

“Dasar kau Konso, kau pikir sudah berumur berapa melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu.”

“Hahaha, aku bosan Mest, penghilang rasa bosan adalah makanan mu.”

Mest adalah seorang koki yang hebat dia pintar memasak dan juga masakan buatannya sangat enak hingga bisa diakui oleh bangsawan di ibukota. Sedangkan Konso adalah seorang tuan muda yang pintar, tetapi dia cukup manja. Walaupun begitu bila menyangkut tentang investigasi dia akan bekerja dengan sangat teliti.
Mest bukanlah seorang koki biasa. Dia adalah seorang petualang dan hunter sejak masa kecilnya. Walau begitu yang dia lakukan dari berburu hanyalah ingin mendapatkan bahan-bahan aneh untuk masakannya, dia tergolong ukuran orang sadis yang bisa membunuh monster apapun untuk jadi bahan masakan walaupun begitu masakannya akan tetap terasa enak selepas berapa aneh bahan masakannya itu.

“Hai Mest apakah kita perlu menyamar bila kita sudah sampai Yokaiawara.”

“Hmmm menyamar yah, tapi bila kau menyamar wajah tampan mu tak akan keliahatan Konso hahahah.”

“Ahh Mest kau benar-benar jahat, apakah kau meledek ku.”

“Aku hanya bercanda, kau mudah dijahili.”

“Tapi kalau aku di ahili Mest, aku  gak akan marah kau selalu baik, dan suka menjagaku, juga yang paling ku suka masakan mu sangat enak.”

Mest dan Konso adalah sahabat walaupun mereka mempunyai hubungan sebagai seorang koki dan tuan muda, saking akrabnya mereka tak mempedulikan status itu karena Mest juga sudah dihormati dan akui oleh keluarga bangsawan Liguan, Sebagai Chef kelas atas yang menyajikan makanan-makanan yang sangat enak dan berkualitas tinggi.

“Tuan kita hampir sampai.”

“Mest bangun ayo bangun.”

“Ada apa konso, apakah ada penyerangan?”

“Bodoh, bukan itu kita sudah hampir sampai kita harus menyamar dan bergerak sekarang.”
“Oh itu baiklah, ayo.”

 Mereka turun dari kereta kuda dan berjalan kearah Yokaiwara. Jalanan yang sepi, dan gelap membuat konso sedikit takut, lalu Konso mencoba meraih jubah Mest agar tidak takut.

“Mest tunggu aku, jangan terlalu cepat.”

“Konso, kita harus cepat sebelum sampai Yokaiwara, jalan ini sungguh sangat berbahaya.”

“Benarkah Mest, aku merasa takut.”

“Tenang saja Konso kan ada aku.”

Lalu Konso dan Mest berjalan dengan cepat, akan tetapi Mest merasakan pergerakan yang aneh yang selalu mengikutinya.

“Konso, tetap di belakang ku.”

“Ada apa Mest?”

“Sruk, sruk,sruk,”

Konso dengan cepat mengeluarkan pisaunya dan langsung melemparkannya kearah rerumputan.

“Mest apa itu?”

“Aku tidak tahu, akan kuperiksa.”

Mest berjalan ke arah rerumputan dan dia melihat hanya seekor kelinci.

“Ku kira apa ternyata hanya se ekor kelinci.”

“Kau buat kaget saja Mest, hahaha”

Setelah sekitar satu jam dalam perjalan yang begitu menegangkan, terlihat cahaya lampu-lampu dan keramaian orang yang lalu-lalang.

“Mest lihat, itu Yokaiwara kita sudah sampai Mest.”

“Iya, iya, aku tau Konso, jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti itu kau membuatku malu.”

“Ahh, kau jahat Mest, tak bisakah kau melihatku bahagia sedikit.”

“Hahaha, kau seperti anak kecil, kau sangat senang sekali ingin melihat monster-monster itu, Konso.”
“Aku hanya penasaran Mest, kau tahu aku tak pernah keluar dari ibukota semenjak ku kecil jadi ini sangat membuatku bersemangat.”

“Hmm baiklah, tapi kau harus berada di dekatku, dan siapkan buku catatanmu, dan buat sihir mu tetap aktif, oke.”

“Siap Mest.”

Konso mengaktifkan sihirnya. Ya walau dia terlihat lemah tapi dia bisa menggunakan sihir walaupun bukan sihir untuk tipe bertarung, tetapi sihirnya tetap luar biasa. Dia bisa menulis tanpa menggunakan pensil atau alat tulis. Apapun yang dipikirkan di dalam kepalanya buku yang dipegangnya akan bisa menuliskan kata-katanya sendiri dan juga tidak mudah menggunakan sihir ini karena, harus sangat fokus agar apa yang dipikirannya bisa sama dengan apa yang akan tertulis di bukunya.

“Tuan, mari sini.”

Tiba-tiba ada yang menarik tangan Konso, dan mulai berbisik-bisik.

“Tuan aku baru punya gadis baru, baru saja kubeli, apakah kau tertarik.”

Tiba-tiba Mest menghampiri orang itu untuk menghajarnya, tetapi segera di tahan oleh Konso.

“Tak apa-apa Mest, dia tak bermaksud jahat.”

“Oh, apakah ini teman mu tuan.”

“Iya, dia temanku, jadi gadis yang kita bicarkan, dia monster dari ras apa?”

“Dia dari ras succubus, tuan.”

“Hei, apa kau gila membiarkan succubus berkeliaran disini.”
“Tenang saja tuan, yang ini masih baru sepertinya dia masih muda.”

“Baiklah, apakah mahal?”

“Sepertinya tuan baru datang ke daerah ini ya?”

“Kau betul, aku baru pertama kali ke Yokaiwara.”

DI Yokaiwara perbudakan oleh para monster betina/perempuan sangat sering terjadi. Mereka sengaja ditangkap dan diburu untuk diperjualbelikan. Bila beruntung kadang para monster itu bisa sebagai peliharaan bangsawan, tetapi sebenarnya monster-monster ini lebih baik berada Yokaiwara, karena mereka tidak akan terikat oleh apapun dan akan selalu dilindungi dengan oleh para germo disini, yang sangat memperhatikan para monsternya di kawasan lampu merah ini.

Mest dan Konso pun akhirnya terayu akan bujukan germo itu, lalu Konso memutuskan untuk masuk bersama Mest. Dia diantarkan menuju kesebuah ruangan yang mempunya meja kecil. Dan Konso dan Mest dipersilahkan untuk duduk.

“Berikan aku minuman yang terbaik yang kau sediakan disini.”

“Hai Kione bawakan tuan muda ini minuman terbaik kita.”

“baik tuan saya akan segera bawakan.”

Lalu sucubbus itu datang sambil membawakan minuman yang diminta oleh Konso.

“Kione kau temani tuan muda ini mimum.”

“Baik tuan.”

Lalu sucubbus itu pun duduk dekat Konso
.
“Mest... Mest apa yang harus kulakuan ditempat seperti ini.”

Konso berbisik-bisik dengan Mest dengan wajah yang memerah.

“Santai saja, gak usah tegang begitu, nikmatin saja.”

“Tapi... aku gak tau bagaimana cara menikmati ini, atau bagaimana aku harus bersikap.”

“Hahah, oke sini aku contohkan, tapi ingat kita hanya investigasi berikan pertanyaan-pertanyaan biasa saja, yang membuat kita tidak dicurigai.”

“Baiklah Mest aku mengerti.”

Lalu Mest pun mulai mencoba membuka obrolan dengan sucubbus itu.

“Hmm maaf kalau boleh tau siapa nama mu tadi.”

“Aku Lione tuan.”

“Eh, bukannya Kione?”

“Ya, sebenarnya aku baru diberi nama itu oleh tuan Borch yang punya tempat ini.”

“Oh begitu, Aku Mest seorang Koki dan ini temanku Konso, dia adalah seorang bangsawan, aku hanya menemani nya karena dia merengek-rengek mau kesini, hahaha.”

Lalu konso pun menyenggol badannya Mest dan juga terlihat wajahnya memerah saking malunya.

“Kenapa kau memberitahunya kalau aku bangsawan, Mest.”

“Kau terlihat malu-malu seperti itu, jadi kalau kau mengaku bangsawan yang baru pertama kali kesini kau tak akan dicurigai sebagai investigator.”

“Oh, kau benar juga.”

Lalu Mest langsung kembali bercakap-cakap dengan Lione.

“Maaf Lione, temanku ini rada pemalu, dia baru pertama kali kesini.”

“Tidak apa-apa tuan, aku juga baru pertama kali betugas melayani jadi aku juga masih belum paham,  untuk melakukan apa-apa aku mohon bimbingannya.”

“Haha, aku sudah 3 tahun tidak kesini dan perkembangan di Yokaiwara sangat maju.”

“Kau sudah beberapa kali kesini Mest?”

“Kira-kira tiga kali, aku kesini kalau di hitung-hitung.”

“Kau ternyata sangat sering kesini.”

“Tentu saja bukan, kalau aku tidak pernah kesini kau tidak akan pernah mengajak ku kesini.”

“Hahahah, kau benar juga Mest.”

Lalu Mest dan Konso asik mengobrol dengan gadis succubus itu. dan setelah selesai makan tiba-tiba sang germo Borch menghampiri mereka berdua.

“Tuan-tuan apakah, tuan mau melanjutkannya ke sesi yang ke dua.”

“Sesi kedua?”

Konso pun menyenggol Mest dengan sikunya.

“Hai Mest apa yang di maksudnya dengan sesi kedua?”

Lalu Mest pun mendekat ke Konso dan mulai membisikan sesuatu ke kupingnya. Setelah itu terlihat wajah Konso memerah dan dia menjadi salah tingkah.

“Mest apa kau serius dengan apa yang kau bisikan tadi.”

“Hee kenapa tidak.”

Lalu Mest mendekat kepada Kione, sambil memegang wajahnya dan bagaian tubuh payudaranya.

“Lihat wajahnya dan bagian tubuh ini apakah kau tidak mau melakuakannya.”

Tiba-tiba Konso bangun dan menyeret tangan Mest.

“Mest apakah kau gila? Aku sudah bertunangan kau tahu.”

“Apa salahnya kau mencoba terlebih dahulu bagaimana rasanya sebelum kau menikah, tidak apa-apa lah kau membuang keperjakaanmu disini. Coba kau lihat gadis sucubbus secantik ini apa Cuma kau liat doang.”

“Tapi... tapi...”

“Sudahlah Konso kenapa kau tidak menikmatinya saja untuk malam ini, setidaknya bersenang-senanglah mumpung kita sudah berada disini.”

Lalu Borsch Langsung memotong pembicaraannya antara Mest dan Konso
.
“Tuan-tuan apakah anda sudah siap untuk sesi kedua?”

“Nah konso, jadilah seorang laki-laki.”

Mest mendorong maju tubuh konso kedepan.
Konso tidak bisa mengelak lagi dan dengan malu-malu akhirnya Konso di giring menuju ke sebuah ruangan lain oleh Lione. Dan sementara itu Mest langsung menghampiri Borsch.

Bersambung

Senin, 16 Januari 2017

Obrolan Warung Oden

Senpai Dan Kouhainya


Setiap malam entah hari hujan yang dingin atau cuaca cerah mereka akan selalu pergi ke warung oden untuk sekedar minum atau makan oden sambil  berbincang-bincang dengan temannya atau orang lain yang di jumpainya.

Malam ini adalah seorang pegawai kantoran dari sebuah perusahaan game, dengan seorang teman kerjanya. Mereka baru berdua baru pulang dari sebuah pesta dan mereka melanjutkan untuk ronde kedua walaupun yang ada hanya 2 orang.

“Nah, Kaoki bagaimana pendapat mu dengan pesta tadi?”

“Hmm, bagaimana apa maksud mu Kawaji San?”

“Yah, gimana ya jelasinnya hmm, ya kita sudah berusaha mengerjakannya selama satu tahun ini, dan dari berbagai kesulitan dan tekanan deadline akhirnya game kita selesai dan akhirnya akan rilis juga.”

“Hmm, kalau dipikir-pikir, hmm, aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, karena aku merasa wah akhirnya aku bisa membuat game pertamaku dengan Kawaji San dan lainnya aku juga merasa sangat senang,”

Minum sake dan memakan oden sambil berbincang-bincang seperti ini memang sudah pemandangan sehari-hari di gerobak oden seperti ini.

“Tapi memang kau adalah sesuatu yang lain Kaoki.”

Kaoki namanya dia adalah pekerja baru dari New Light Hope game company. Perusahaan game yang baru berdiri selama 10 tahun.

“Apa maksud mu dengan sesuatu yang lain Kawaji San?”

“Bila kau tidak mengurus bagian efek suara dan musiknya aku pikir game ini tidak akan menjadi game yang bagus.”

“Ah, kau terlalu memuji Kawaji San.”

Reneo Kawaji adalah senior dalam perusahaan game itu yang mengurus bagian dalam game engine progammer.

“Tidak juga, efek-efek suara yang kau hasilkan benar-benar jernih dan terlihat asli, bagaimana cara kau melakukannya Kaoki?”

“Aku melakukannya seperti biasanya, dan tidak melakukan hal yang khusus mungkin karena aku benar-benar mencintai suara-suara yang ada di sekitarku.”

“Eh, apa maksudmu dengan mencintai suara-suara Kaoki ?”

Kaoki mengeluarkan sebuah alat kotak kecil hitam itu adalah voice recorder yang mungkin biasanya digunakan oleh para wartawan berita.

“Inilah yang ku maksud dengan mencintai suara-suara disekitarku.”

“Bukankah itu perekam suara!”

“Ya, ini perekam suara, aku selalu merekam setiap suara disekitarku setiap hari dan waktu.”

“Jadi kau selalu membawa itu setiap hari? Aku bahkan tidak tahu bila kau suka merekam suara.”

“Ya, Kawaki san aku membawanya setiap hari, dan kadang aku merekam secara diam-diam bila ada suara-suara yang menurutku menarik di kantor.”

“Hahaha, aku pikir kau seorang wartawan atau mungkin mata-mata dari perusahaan lain.”

“Tidak mungkinlah aku seorang mata-mata Kawaji san.”

Tiba-tiba mata Kawaji san terlihat serius dan tangannya mulai memegang pundak Kaoki dengan erat.

“Tapi itu benar, kau sebenarnya lebih dari 6 bulan ini sudah dicurigai oleh direktur bahwa kau adalah mata-mata.”

“Mana mungkin, aku begitu.”

“Tapi kau selalu menyendiri, kadang melakukan hal aneh dan suka menguping, atau kadang saat orang sedang berbicara kau hanya berdiri seperti patung tanpa berbicara, sambil memasukan tangan kedalam saku celana.”

“Hahaha ya sebenarnya aku masih belum terbiasa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dan aku selalu menyalakan recorder ku tanpa henti selama di kantor waktu itu, tapi aku bukanlah mata-mata.”

“Ya, aku percaya game kita sudah rilis dan tanpa kebocoran informasi apapun.”

“Aku tidak akan mungkin mengkhianati perusahaan Kawaji san.”

“Tapi kalau boleh aku tahu, sebelum di perusahaan game kau bekerja dimana?”

“Aku sempat bekerja di studio music yang berurusan dengan suara effect untuk pembuatan animasi.”

“Hmm, sudah kuduga, apakah kau juga penah membuat efek suara anime?”

“Pernah sekali, itu adalah sebuah efek suara yang benar-benar hebat yang pernah kubuat.”

“Heh, benarkah? Anime apa yang kaugarap waktu itu?”

“Aku lupa judulnya, sudah 3 tahun aku tak mendengarkan berkasnya.”

“Berkas?”

“Maksudku adalaha file suara, aku mempunyai banyak file-file suara yang kurekam hingga aku tidak tahu lagi filenya ada dimana.”

“Apakah sebanyak itu file-file suaramu?”

“Hmm, kurang lebih empat hingga 5 tera lebih.”

“Gila, kau benar-benar maniak suara Kaoki.”

“Hahaha, itu belum seberapa Kawaji san, itu saja masih kurang.”

“Masih kurang, Apakah kau mau beli Harddisk baru lagi?”

“Iya, aku akan membeli nya sekitar dua tera lagi untuk perjalanan ku nanti.”

“Perjalanan? Apakah kau mau pergi ke suatu tempat.”

“Sebenarnya, aku mengambil cuti 2 bulan untuk pergi berlibur ke asia tenggara.”

“Wow, benarkah apa di bolehkan oleh direktur?”

“Boleh, asal jangan lebih 2 bulan.”

“Ehhh! Enak sekali kau Kaoki.”

“Aku memang sudah lama ingin pergi berjalan-jalan ke asia tenggara, untuk mencoba mendapat suara baru dan berbeda di daerah di tempat yang berbeda.”

“Kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri Kaoki? Apakah disini tidak cukup suara untuk kau temukan.”

“Ya, kau tahu bahwa bila kita ke negara lain tempat, suasana, dan bahasanya mempunyai karakter unik masing-masing. Maka dari itu aku ingin mendengar sendiri suara-suara asing yang tak pernah kudengar sebelumnya.”

“Wah, enak sekali aku juga ingin pergi ke luar negeri setidaknya sekali.”

“Bagaimana bila kau ikut jalan-jalan bersamaku Kawaji san.”

“Ya bila aku sekarang masih bujang, mungkin aku akan ikut, tapi sekarang aku sudah berkeluarga aku takan sanggup bila meninggalkan anak istri ku sendirian.”

“Kau suami yang baik, Kawaji san.”

“Ah, kau terlalu muji Kaoki.”

“Tidak, tidak, kau memang orang baik Kawaji sana, kau adalah orang yang ramah, kau tahu bahwa aku ini orangnya kadang sangat pendiam dan susah bersolisasi sejak aku datang ke perusahaan ini, tapi kau orang yang baik dan ramah kepada siapapun hingga aku senang saat pertama kali menyapaku, apalagi saat ini kau mengajakku untuk pergi dan mengobrol seperti ini.”

“Haha aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, karena aku baru sadar bahwa sebuah video game yang bagus tidak hanya membutuhkan sebuah cerita dan graphic serta gameplay dibutuhkan juga efek suara yang bagus.”

“Hahaha, aku hanya biasa saja Kawaji san kau terlalu berlebihan.”

Wajah Kaoki terlihat memerah dan menunjukan rasa senang karena di puji oleh Kawaji san.
“Kawaji San!”

Kaoki lalu menundukan badannya kearah Kawaji san.

“Terimakasih atas usahamu selama ini di dalam perkembangan progammer dalam game ini.”

Lalu Kawaji san pun melakukan hal yang sama kepada Kaoki.”

“Aku juga Terimakasih atas usahamu dalam membuat suara yang indah untuk game ini.”

Lalu mereka melanjutkan dengan minum sake dan minum sake, mereka tampak bersenang-senang dan akrab sekali.

“Kawaji san, apakah kau akan merindukan ku bila aku pergi dua bulan ini.”

Kawaji san pun menjitak kepala kaoki.

“Bodoh, mana mungkin aku akan merindukan seorang pria, aku masih normal, hahaha.”

“Maksudku bukan itu, bila aku tidak kau mungkin tidak akan pernah mengajak kesini lagi untuk minum-minum atau yang lainnya.”

“Hmmm, ya aku tahu mungkin akan terasa sepi bila temanku tidak ada tapi, kau pergi untuk membuat dirimu berkembang kan"

Kaoki terpaku dan matanya berkaca-kaca.

“Kawaji san terimakasih.”

“Eh, kenapa kau bersedih, bodoh kau sudah tua tapi tetap menangis hahaha.”

“Tidak aku hanya terharu Kawaji san.”

Mereka lalu bergegas untuk pulang karena dirasa sudah malam.

“Sepertinya istri ku sudah menunggu, kita pulang sekarang Kaoki.”

“Iya Kawaji san aku juga sudah mulai mengantuk.”

“Kaoki hati-hati dalam perjalanan dan jangan lupa bawakan aku oleh-oleh.”

“Hahaha, baik Kawaji san aku tak akan lupa akan kubawakan kau oleh-oleh nanti.”

END

Selasa, 03 Januari 2017

Lost Saga VR (Virtulalize Reliaze)







“Ah bisa main gak sih”

“Yang bener dong Covernya”

“LoL mending jual charnya”

“Dasar Ccd”

“Percuma lu beli unik kalau gak bisa main mending jual tuh char”

“Yah kok kalah dek makanya jangan banyak bacod”

“dasar lol lu teman gak guna”

“team gw cacad amat ya”

Begitulah keseharianku saat aku memulai bermain game Lost Saga satu tahun yang lalu. Banyaknya flamming, junk, Cheater, dan lain-lainya membuat game ini sangat susah untuk kutinggalkan. Aku sebenarnya sudah lelah untuk bermain game ini, dimana game yang harusnya menyenangkan bisa hancur karena player yang tak bisa mengontrol diri untuk berkata kasar dan merendahkan orang lain melalui chat mereka. 

Awal mula aku bermain game ini karena aku sedang bosan dan berpikir dalam hatiku “apakah ada game online yang ringan untuk pc yang sudah tua” lalu aku mulai mencarinya di internet dan kutemukanlah lost saga. Saat pertama ku memulai game ini aku tidak terlalu begitu merespon chat flamming, junk dan lainnya karena awal aku main serasa sangat menyenangkan fun dan yang kupikirkan hanyalah game lost saga.

Setiap minggu kuhabiskan dengan battle, raid, dungeon dan banyak berinteraksi dengan player lain dan atau menghabiskan waktu ke plaza dan memancing atau relic disana. Ahhh benar-benar waktu yang sangat menyenangkan. Tapi waktu jam bermain ku semakin lama dan pangkat ku semakin besar, hari-hari ku bermain Lost Saga merasa sangat membosankan, dengan semakin aku memperhatikan lawan yang suka menghina bila dia menang, atau menjelek-jelakan lawan bila tak terima kalah. kondisi seperti inilah yang sangat membuatku kesal.

Dan akhirnya hari demi hari aku terpengaruh oleh mereka, aku pun berbuat seperti yang mereka lakukan. Merendahkan lawan, menghina, dan perbuatan-perbuatan yang dulu aku tidak sukai akhirnya aku menjadi seperti golongan mereka, tapi aku sadar bahwa hal itu tak pelu dianggap serius. Aku pun mulai menutup diri untuk ramah dan tidak berbicara kepada mereka chat ku nonaktifkan dan seterusnya aku hanya bermain untuk event-event yang setiap minggu ber-reward bagus.

Tetapi rasa itu mulai mengahampiri. Ya, itu adalah rasa bosan yang terus menerus kurasakan dalam game ini, aku akhrinya memutuskan untuk berhenti di akhir tahun 2016 dan tidak akan bermain lost saga lagi....


Welcome to Virtual Realize of Lost Saga

Part 1

Hari ini 31 Desember aku memutuskan untuk bermain Lost Saga terakhir kalinya. Di malam tahun baru yang ramai ini, aku gunakan untuk bermain game di dalam kamar saja, hingga menjelang pergantian Tahun nanti. Aku mulai dengan menyapa dan mengobrol dengan friend list ku, dan berbicara seputar tahun baru yang hanya menghabiskan main game saja, dan percakapan itu berlanjut hingga mabar alias main bareng.

“Bro kita nongkrong di plaza dulu yuk sambil mancing gw mau afk sebentar.”

“Oke gua tunggu.”

Aku membalas chatnya Iplenix459, aku tidak begitu tahu nama aslinya tapi bila dichat aku suka memanggilnya len biar mudah.

Haaaah aku sangat bosan kenapa Len tak kunjung bergerak atau menjawab chatku. Aku mencoba memukulnya dan mencoba berbagai jurus dari skill gear yang ada tapi dia tetap diam.

“Doooowaar!!!!!!”

“Bruuk...”

“Adadadaww...”

Aku kesakitan karena jatuh dari kursi, aku kaget baru pertama kali kudengar bunyi petasan yang begitu keras hingga bisa membuat daerah sekelilingnya bergetar. Aku mencoba untuk menenggok keluar untuk memastikan bahwa itu hanya bunyi petasan yang dinyalakan oleh sekitar warga komplek dan bukan sebuah kebakaran atau gas meledak dari rumah warga.

Aku berjalan melalui pintu dan mencoba untuk melihat keluar. Hmm... aku merasa ada yang tidak beres kok kenapa terasa sepi sekali bukannya aku tadi mendengar suara hiruk-pikuk warga dan anak-anak yang sedang bermain di jalan tadi?.

Aku mulai merasa merinding dan segera bergegas untuk masuk kedalam rumah.



*****

“Hai nak bangun apa yang kauperbuat disini? Jangan tidur sembarangan.”

“hoaaamzzz...”

“Dasar gelandangan sana pergi...”

Aku mulai membuka mataku...

“Cepat pergi Sana!!!”

“Byuurr...”

“Aww dingin, dingin...”

Kenapa aku tidur disini ‘brrrr’ dingin sekali kok tiba-tiba kenapa aku diguyur dengan air dingin ini.
Aku mulai binggungg dan belum mengerti apa yang terjadi. Sambil berlari aku mencari tempat untuk bersembunyi.

“Dimana aku berada saat ini?”

Sebenarnya aku sekarang sedang berada dimana? Bagaimana aku bisa sampai tertidur di jalan dan diguyur oleh orang yang aku tidak kenal.

“Hei kamu..”

Aku belum sempat berpikir dan tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggilku.

“Maksudnya aku.”

“Ya kamu siapa lagi, hadehh.”

Dia seorang gadis dengan kostum mirip gothic lolita tapi aku terasa tidak asing dengan kostum itu sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.

“Maaf, boleh aku bertanya? tempat apa ini? dan saat ini aku sedang berada dimana?”

“Kamu Newbie ya?”

“Newbie?”

“Hmm susah jelasinnya kalau sama newbie, mending langsung praktek ayo sini.”

Gadis itu menghampiriku dan memegang tanganku. Tanganku! Uwahh baru kali ini aku bergadengan tangan dengan seorang gadis. Dia mengajakku menyusuri ke sebuah seperti daerah pasar yang sangat ramai dimana disana banyak sekali transaksi jual beli senjata, tapi ini terasa tidak asing dan aku tahu betul bentuk-bentuk senjata itu persis dengan....

“Ehhh, tunggu sebentar.”

“kenapa sih kita udah mau sampai ke pertandingan jalanannya nie.”

“Tunggu, tunggu sebentar, apakah yang dijual oleh para pedagang itu kan...”

“Oo kau sepertinya sudah tau ya, benar itu adalah senjata Lost Saga...”

“Eeewww, bohong aku tidak pernah melihat hal seperti ini akan bisa menjadi sesuatu yang nyata.”

“Tidak benar, ini memang benar senjata Lost Saga, ah kagumnya ntar saja kita harus buru-buru.”

“mau kemana sih sebenarnya kita.”

“Udah jangan cerewet cepet ikut saja.”

Aku mulai berlari sambil melihat para pedagang-pedangang itu dan semuanya yang dijualnya benar-benar senjata Lost Saga, dari bentuknya sangat mirip persis. Apakah benar-benar ini dunia Lost Saga?.

“Oke kita sudah sampai, aku akan mengenalkan kau pada dunia ini”

“Selamat Datang Di The Virtual Realize of Lost Saga....”

Bersambung

Senin, 02 Januari 2017

Yokaiwara


Red Light District  From Monster

“Selamat datang tuan petualang silahkan mampir kesini.”

“Hai tuan petualang hebat kenapa kau tak mampir sebentar untuk minum.”

“Mari tuan-tuan petualang! Kami mempunyai monster baru yang sangat cantik silahkan Mampir.”

“Tuan petualang otot mu sangat kuat dan besar pasti kau sangat perkasa bagaimana kalau mampir sebentar tuan, akan kuberi harga murah lo.”

Beginilah keseharian di daerah yokaiwara, banyak monster2 perempuan dan para germo mencoba menjual dan menjajakan diri mereka hanya untuk memusaskan hasrat dan hawa nafsu para petualang dan kesatria yang mencari hiburan malam.

Yokaiwara baru 10 tahun berdiri tapi sudah sangat-sangat populer dikalangan para manusia. Mereka menyukai gadis-gadis yang cenderung aneh dan juga menjijikan yang mempunyai bentuk yang tidak lazim pada umumnya. Kalau bisa dijelaskan monster apa mereka, kebanyakan ras iblis, vampire, succubus, lamia, orc, centaur, manusia hewan, dan bahkan goblin juga ada ya goblin perempuan bisa kaubayangkan bagaimana penampilan nya goblin yang pendek dan hijau bahkan  diantara monster lain mungkin dia yang terburuk dan mempunyai wajah paling menyeramkan.

Tapi mungkin pendapatku bisa salah ternyata di Yokaiwara ini dialah yang sangat populer bahkan dikalangan monster-monster elit yang mempunyai wajah cantik dan badan yang  semampai  seperti succubus pun kalah oleh goblin ini.


 

Sang Ratu Yokaiwara
Part 1
Suasana hingar-bingar malam yang penuh dengan lampu-lampu terang dan semakin malam semakin ramai orang yang lalu lalang. Mereka berhenti di depan satu dua rumah dan berbicara pada gigolo-gigolo itu lalu bila ada kesepakatan mereka menyuruh masuk kedalam. Memang yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang berbau dewasa, ya memang seperti itu bila kau melihat Yokaiwara tak jauh berbeda dari tempat pelacuran lainnya. Akan tetapi, bila normalnya tempat lampu merah itu berisi gadis-gadis cantik. Namun, Yokaiwara berbeda disinin mungkin ada gadis cantik tapi mereka kebanyakan bukan dari kalangan manusia. Yah kau benar bukan manusia mereka adalah ras-ras monster yang unggul.

“Aku ingin bertemu ratu yokaiwara cepat bawa dia kemari.”

“Maaf tuan besar, sang ratu malam ini tidak akan melayani siapapun.”

“Kau! Dasar TOLOL!!! Kalau aku suruh sekarang ya sekarang, cepat bawa dia kemari.”

“Sepertinya Tuan Marundan membuat masalah lagi.”

“kenapa dengan dia?”

“Dia ingin bertemu Sang Ratu Yokaiwara.”

“Kenapa tak kau pertemukan saja mereka.”

“Tapi bos, Ratu yokaiwara itu susah untuk ditemui, hanya bila dia mau baru dia akan menemuinya.”

“Baiklah aku akan mencoba untuk membujuk dia.”

Kepopuleran Sang Ratu Yokaiwara tidak diragukan lagi. Dia banyak dicari oleh kesatria-kesatria besar, 
bangsawan, dan bahkan petualang-petualang hebat. Dia seorang Goblin. Ya goblin, bila kau tahu bentuk goblin pasti kau akan beranggapan dia adalah perempuan yang buruk berwajah aneh, badan pendek, bewarna hijau dan yang membuat membayangkan dia seorang goblin yang buruk rupa.

“Hmm nyonya. bisakah kau bertemu sekali saja dengan Tuan Marundan, agar dia tidak membuat masalah lagi.”

Wajah misterius yang tertutup oleh kipas di bawah cahaya sinar bulan memancarkan aura yang sangat menawan. Dia adalah sang ratu yokaiwara Larchnia.

“Apakah aku harus menemuinya?”

“Bila nyonya tidak menemuinya, nanti dia akan mengamuk dan berbuat masalah lagi.”

”Tuan... sebenarnya aku kurang sehat dan tidak ingin menemui siapapun pada hari ini.”

“Nyonya, bagaimana bila kau hanya menemaninya untuk minum dan menuangkan arak kepadanya.”

“hmmm.... baiklah tapi tak lebih dari 3 botol arak aku akan pergi dan kembali kesini, tolong bilang itu kepada tuan Marundan.”

“Baik nyonya.”

Larchnia Belst, sangat rupawan wajahnya walaupun berwarna hijau agak keputih-putihan , tapi parasnya yang elok dan sangat berwibawa membuat dia sangat terkenal dan di cintai banyak orang. Dia adalah sang ratu yokaiwara yang selalu bisa menghibur tamunya dengan puas. Larchnia Belst sudah 5 tahun berada di Yokaiwara ini, tapi mendapat julukan ratunya sekitar 2 tahun belakangan ini.

“Tuan Marundan, sang ratu akan menemui Anda tapi dia hanya akan menemani minum arak dan hanya 3 botol saja.”

“APA!!! berani sekali dia menantangku, apa dia tidak tahu siapa yang memanggilnya, cepat bawa dia kemari.”

“Maaf tuan , saya benar-benar tidak bisa melakukan itu bila nyonya tidak setuju.”

Tuan Marundan adalah seorang bangsawan yang sudah sering datang ke Yokaiwara ini. Dia sangat terkenal dikalangan monster-monster lacur itu. Tuan Marundan orang yang tidak segan-segan untuk mengeluarkan banyak uang untuk bermain-main dengan monster-monster lacur itu.

“Maafkan kedatangan saya yang terlambat Tuan, mohon kiranya hukumlah aku.”

Di saat suasana genting dan mendesak karena Larchnia Belst atau sang ratu Yokaiwara tidak ingin membuat masalah untuk tempat ini dia segera bergegas untuk menemui Tuan Marundan.

“Tidak apa-apa Belst, maafkan aku juga yang tidak sopan karena bertindak kasar dan kurang sopan ditempat ini.”

“Tolong siapkan sebuah ruangan untuk kami berdua, bawakan arak terbaik dan makanan-makanannya.”

“Baik tuan.”

Tuan Marundan dan Sang ratu Yokaiwara Larchnia Belst pergi ketempat ruangan yang telah disediakan oleh para pekerja di situ. Mereka berbincang-bincang dan tertawa sambil bercanda, juga sambil mendengarkan keluh kesahnya tuan Marundan.

“Kau terlihat pucat Belst.”

“Ya tuan akhir-akhir aku merasa kurang sehat.”

“Maafkan aku yang telah membuat kekacauan, aku sebenarnya tidak ingin berbuat seperti itu, tapi aku sangat benar-benar ingin bertemu denganmu Belst.”

“Ada masalah apakah tuan? Sepertinya kau kelihatan sangat cemas dan ketakutan.”

“Kau benar Belst, orang-orang kerajaan itu sudah mulai akan menaikan pajak tanah lagi tahun ini, dan juga akan mengaudit daerah kekuasaanku, aku benar-benar sangat kesal .”

Tuan Marundan mempunyai nama lengkan Marundan Ekavalier Nonthrees II dia adalah keluarga bangsawan terkemuka dari keluarga Nonthrees, mempunyai perawakan yang cukup besar cenderung gendut, dia adalah benar-benar bangsawan keji yang memperlakukan pegawai-pegawai dengan semena-mena menarik pajak yang tidak seharusnya ditetapkan oleh kerajaan untuk dirinya sendiri dan juga berbagai cara untuk menyuap para penyelidik-penyelidik kerajaan itu.

“Apakah kau tidak bisa dengan memakai cara yang biasa tuan lakukan.”

“Kurasa sudah tidak bisa Belst. Dia penyelidik yang jujur dan sepertinya punya integritas yang tinggi pada kerajaan.”

“Benarkah itu tuan? Sangat jarang sekali ada seorang pegawai kerajaan yang punya dedikasi tinggi seperti itu.”

“Kau tidak usah terlalu memuji dia, dia mungkin adalah seorang miskin yang terlantar dan direkrut oleh kerajaan untuk menjadi anjing setianya.”

Setelah mendengar dan cukup lama berbincang-bincang Larchnia Belst menuangkan satu botol arak terakhir dan tiba-tiba tuan Marundan langsung memegang tangannya dengan kuat.

“Belst... tidak bisakah malam ini kau melayaniku.”

“Maafkan aku tuan, aku benar-benar tidak bisa.”

“Belst.. Belst.. kumohon...”

Tuan Marundan menggenggam nya dengan erat dan mulai menjitlati pipinya Belst dengan tangannya yang nakal meraba-raba tubuh Belst.

“Bruuuk..”

“Aduuh...”

“Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja menendangmu ini reflek diluar kehendakku.”

“Belst kenapa kau begitu kasar padaku? Padahal kau dulu sangat senang saat melayaniku. Apakah kau meminta bayaran yang lebih? Akan kuberikan berapapun asal kau mau menemaniku malam ini Belst.”

“Maafkan aku tuan.”

Belst pun langsung meninggalkan tuan Marundan yang sedang kesakitan itu. 

“Belst...”

Begitulah malam-malam yang selalu dilewati oleh sang ratu Yokaiwara, menemani satu demi satu pria yang hanya ingin memuaskan nafsu mereka. Entah apa yang dipikirkan Larchnia Belst saat ini, setelah 5 tahun di yokaiwara dan akhirnya berhasil mencapai puncak tertinggi di daerah itu ada kekosongan dalam hatinya. Perjalanan penuh pilu dan kenapa dia bisa sampai di tempat ini masihlah menjadi sebuah teka-teki.
                                                      
                                                                            Bersambung