Obrolan Malam 3 Author
Di waktu malam yang sepi dan dingin banyak orang cenderung mencari makanan hangat dan juga banyak sekali penjual
kaki lima di Jepang di pinggir-pinggir jalan dan banyak penjual oden kaki lima
yang disebut oden-ya sebutan penjual tukang oden. Di malam ini, ini adalah
cerita tentang 3 orang manusia yang mempunyai pekerjaan yang hampir mirip
mereka berkeluh kesah dan juga memberi semangat masing-masing inilah kisah 3
orang tersebut.
Jouraku kanari atau Joukarin itu adalah namanya di dalam
perjalanan pulang karena sudah malam dan sedikit lapar dia mampir ke sebuah
gerobak oden di pinggir jalan dekat sungai.
“Paman minta sakenya satu.”
“Aiyoo... ini silahkan...”
“Paman... tolong ini dan itu juga masing-masing dua buah.”
Sambil menunjuk makanan Hanpen dan Ganmodoki.
“Haah..” sambil menghela nafas.
Terlihat Joukarin sangat-sangat lesu dan dia meminum sake sambil
memandangi oden nya yang belum dimakan. Terlihat lesu dan gelisah tapi juga ada
raut ekspreksi wajah terpancar di wajahnya
Kanase Smith disebut juga WestSan juga menghampiri gerobak
oden itu. Dia juga sedang dalam perjalan pulang.
“Paman minta sake nya satu.”
“ Aiyoo...” Sambil memberikan
botol sake.
“Hmm malam dan dingin-dingin sepertinya sake hangat memang yang
terbaik.” Ucap WestSan.
“........” Joukarin hanya diam saat WestSan bicara.
“Iyakan paman sake hangat dan juga makan oden adalah yang
terbaik.” Sambil tersenyum dia mencoba mengajak paman penjual oden.
“Hnhnhnn.... memang sake adalah penghangat tubuh terbaik.” Jawab
paman penjual oden itu sambil tertawa.
“Huuh berisik sekali tak bisakah kau tenang sedikit?”
Joukarin yang setengah mabuk tidak suka dan berbicara setengah menantang ke WestSan.
“Hahaha... maaf ini memang salahku, tapi sepertinya kamu ada
masalah? Apa yang membuat mu tak
senang?” tanya WestSan.
“Itu bukan urusan mu!, kau terlalu banyak bicara! Jangan
sok akrab denganku!.” Bentak Joukarin.
“Haha iya benar seharusnya aku tak boleh begitu, aku
hanya ingin menghilangkan rasa penatku jadi kupikir bila ku berbicara dengan
seseorang mungkin akan membuatku bisa sedikit senang dan bisa melepaskan
stressku.”
“Uruslah urusanmu sendiri...” dengan ketus Joukarin
berbicara dengan WestSan.
“Aarggh aku tidak mau menulis lagi, aku mau liburan, aku mau bermain
game, aku mau pergi ke akibahara dan bertemu dengan maid chan yang imut, dan jalan-jalan keluar negeri,
aku sudah lelah menulis....”
“Dasar berisik, apa kau sungguh tidak bisa diam dan tenang?” tanya Joukarin.
Dengan spontan WestSan menepuk pundak Joukarin.
“Hei... kau tahu aku sudah lelah dengan apa yang diperintahkan editorku, dia
memaksaku membuat light novel lagi disaat buku penjualan volume 2 ku berjalan
baik dan sudah terjual hampir 200.000 eksemplar. Aduhhh...., apa yang sedang dipikirkan
editorku untuk membuat seri baru apakah dia memang mata duitan.” Keluh WestSan kepada Joukarin.
“Dasar kau pemalas!” Joukarin bangkit lalu memegang kerah
bajunya WestSan.
“Paman minta sakenya satu.”
“Aiyoo...”
“Manusia itu hidup harus bekerja, harusnya kau bangga dan
bersyukur bahwa editormu sangat berharap dan selalu percaya kepadamu hingga kau
disuruh membuat seri baru lagi.” Joukarin melepaskan kembali baju nya WestSan
dan kembali duduk sambil meminum sakenya.
“Kau tahu aku sangat kesal dan sedih hingga tak tahu apa
yang harus kulakukan. Manga yang kubuat terus turun dalam polling angket baru-baru ini. Dan aku baru membuat
12 chapter dan disuruh mengakhirnya dengan 3 chapter .”
“Ini ketiga kalinya aku mengakhiri seri manga yang
kubuat, sangat sedih dan kecewa aku selalu berharap mempunyai seri yang
berlangsung lama hingga
ratusan chapter. Tapi kenyataan itu pahit bila manga mu tak disukai dan
angket
turun maka serial itu akan harus segera diakhiri.”
“Aku tak tahu engkau seorang pembuat manga, siapa namamu
sensei?”
WestSan dan Joukarin kaget dan
melihat orang yang duduk di pinggir WestSan.
“Sejak kapan kau berada disitu?” tanya
WestSan.
“Eh aku sudah lama berada disini
apakah kau tidak sadar.” Jawab Konishi.
Konishi Itoh Itulah namanya dia
sudah ada sejak Joukarin marah-marah kepada WestSan.
“Ahsudahlah, tak penting lagi
paling kau juga mungkin tidak pernah dengar nama ini, namaku Jouraku Kanari pen
nameku Joukarin.”
“Wow Joukarin sensei yang itu
bukan, hmm... oh iya aku ingat! pembuat manga Love love Pantsu Imouto. Aku
sangat senang bisa bertemu pengarang favoritku disini.” Ucap Konishi dengan
mata berbinar-binar dan sangat gembira.
“Sensei karyamu sangat bagus aku juga sangat suka
gambarnya dan teknik menggambar pantsunya benar-benar sangat bagus. Sensei benar-benar seorang
panchira sejati.” Ucap westSan memuji.
“Kau terlalu banyak memuji. Tapi,
walau begitu Love love Pantsu Imouto adalah karya terbaikku dengan penjualan
volume 1 dan 2 yang cukup bagus. Yah, aku sangat merasa puas kala itu hingga
aku berusaha membuat manga yang lebih baik lagi. Tetapi di manga selanjutnya
kualitasku malah terus menurun.” Ucap Joukarin dengan sedih.
“Aku juga sebenarnya sangat bersyukur dan senang editorku
menyuruh membuat light novel lagi. Tapi, aku sedang dalam kebuntuanm aku tak
bisa berpikir untuk bab selanjutnya apalagi untuk membuat seri light novel baru. Aku
benar-benar merasa lelah dan ingin merasa bebas dan santai melakukan apapun
selain menulis.” Ucap WestSan dengan sedih sambil menghela nafas panjang.
“Sensei kau seorang penulis light novel juga, boleh ku tau
namamu sensei?” tanya konishi.
“Namaku Kanase Smith tapi kalau di light novel aku memakai
nama WestSan.” Jawab WestSan
“WestSan! Oh aku ingat dia juga pengarang favoritku, light
novelnya kalau tak salah berjudul ‘nazeda Watashi wa betsu no sekai ni wa ōku
no utsukushī josei ga aru koto o sekai ni nozonde iru hitsuyō ga arimasushi,
watakushijishin’. Ucap Joukarin.
“Sensei kau hebat bisa sampai ingat judul sepanjang itu,
benar-benar membuatku terharu sensei.” Ucap WestSan dengan gembira penuh haru.
“Tidak juga, itu karena aku memang benar-benar suka light
novel mu sensei sangat lucu komedinya benar-benar bagus sensei.” Ucap Joukarin
dengan sedikit penuh malu-malu.
“Wow kalian benar-benar orang hebat apa dayaku hanya seorang
ilustraror animasi yang bergaji rendah.” Ucap konishi dengan lesu dan sedih.
“Kau tak usah berkecil hati kawan, ngomong-ngomong siapa
namamu? Maaf aku sampai lupa menanyakannya.” Ucap WestSan.
“Aku Konishi Itoh, dulu sebelum jadi ilustrator animasi aku
sempat jadi asisten mangakaka selama 2 tahun.”
Jawab Konishi.
“Konishi ito, hmm aku ingat kau pernah membantuku waktu dulu
saat membuat ilustrator light novel! Hmm tunggu sepertinya aku lupa-lupa
ingat.” Ucap WestSan sambil berpikir keras.
“........... Oh iya!” Bentak WestSan
Konishi dan Joukarin pun kaget dibuatnya oleh WestSan.
Lalu WestSan menjelaskan kepada mereka berdua kenapa dia
bisa kenal Konishi Itoh.
“Jadi begini saat itu editorku sedang dalam perjalan pulang
dari kantor penerbit, lalu dia melihat ada orang setengah mabuk dan langsung menghampiri
orang tersebut. Lalu dengan iseng editorku menanyakan orang itu begini. ‘Hei
kamu bisakah mengggambar seorang gadis cantik yang seksi buatku nanti kalau bisa
kuberi 5.000 yen untukmu.’ Lalu singkat
cerita dia menggambar langsung apa yang diminta editorku. Setelah gambarnya
selesai dia sangat kagum dan menanyakan namanya dan sekalian membubuhkan tanda
tangan digambar tersebut. Lalu, dia memberinya hanya 2500 yen dan langsung
kabur.”
“Ahh! Aku baru ingat, itu seperti mimpi yang aneh aku memang
waktu itu pergi ke suatu sempat dan sepertinya aku sedang ada masalah yang membuat ku sangat sedih lalu
kuputuskan untuk pergi minum-minum dan di saat perjalan pulankg aku seperti sedang
menggambar tapi aku tidak begitu ingat, dan begitu bangun pagi aku mau mengganti baju
tiba-tiba ada uang di kantong bajuku sekitar 2500 yen, aku tak terlalu berpikir
aneh-aneh aku menganggap itu hanya uang kembalian.” Ucap konishi kaget sembari
menjelaskan kronologinya.
“Ahh, aku sangat malu apa yang dilakukan oleh editorku, Aku
minta maaf Konishi san.” Ucap WestSan sambil menundukan kepalanya menghadap ke
Konishi.
“Tidak apa-apa sensei, aku juga sudah melupakannya, lagian
aku sekarang sedang sibuk untuk menggambar scene ilustrasi untuk project anime Kakumei no
Hareem, jadi aku tidak begitu memikirkannya lagi.” Ucap konishi sambil memegang
WestSan untuk tidak perlu menundukan kepala.
”Aargghh! Karya mantan asistenku sekarang sudah menjadi
anime, aku sangat iri sekali, kapan mangaku bisa jadi anime.” Ucap Joukarin
dengan penuh sedih dan sedikit terlihat kecewa.
“Semangat sensei, mungkin karyamu selanjutnya akan menjadi
anime dan akan terus berlanjut menjadi seri yang akan bertahan lama.” Ucap
WestSan sambil menepuk pundak Joukarin.
“Kamu benar WestSan, aku harusnya tidak depresi dan terus
bekarya membuat yang lebih baik lagi
dari seri sebelumnya.” Ucap joukarin dengan semangat.
“Aku juga harusnya jangan mengeluh, walaupun minggu-minggu
ini banyak retake tapi bukan alasan untuk melarikan diri aku harusnya bangga
bahwa aku juga bisa berkontribusi untuk anime yang bagus.” Ucap Konishi yang
tak mau kalah dan juga terpancar aura semangat di matanya.
“Kau benar Konishi san, jangan menyerah bersemangatlah aku yakin suatu saat
usaha dan kerja keras tidak akan mengecewakan apalagi kau masih muda, bersemangatlah Konisihi.” Jawab WestSan
dengan Menepuk pundak Konisihi.
“WestSan sensei! Joukarin sensei, suatu saat bila karyamu
menjadi anime aku akan membantumu dengan sepenuh hatiku.” Ucap Konishi dengan
senang.
“Hahahaha, semoga itu bisa terwujud
terimakasih Konishi san.” Ucap Joukarin Sensei.
“Ayo kita bertiga bersulang untuk
merayakan Kembalinya semangat kita yang hilang.” Ucap WestSan sambil memegang
gelas sake tinggi-tinggi.
“Aku jadi teringat tentang Liu
Bei, Zhang Fei, Dan Guan Yu yang saling bersulang arak dibawah pohon persik dan
akhirnya mereka jadi saudara, hahaha.” Ucap Joukarin sambil ketawa.
“Kau benar sensei tapi bedanya
disini kita ada dibawah tenda gerobak oden, hahaha.” Ucap konishi dengan
senang.
Dan akhirnya mereka beritga pun
bersulang sake.
“Kaanpaaaiiii...”
“Anooo tuan-tuan sekalian hari
sudah makin malam dan aku harus segera menutup dagangan dan kembali pulang.”
“Oh maaf paman kami akan segera
pergi, jadi berapa semuanya biar aku saja yang bayar semuanya.” Ucap WestSan dengan
senang
“Sensei tidak usah repot-repot biar aku
saja yang bayar punyaku sendiri.” Ucap Konishi.
“Iya WestSan sensei kau tidak
perlu seperti itu, aku bisa membayar punyaku sendiri.” Ucap Joukarin.
“Tidak apa-apa, aku hari ini
sangat bahagia bisa bertemu kalian berdua, tolong biar aku saja yang bayar.”
Ucap WestSan dengan sedikit memaksa.
“Baiklah WestSan sensei kalau begitu memaksa, maaf merepotkanmu.”
Ucap Joukarin.
“Aku juga teriamaksih sensei.”
Ucap Konisihi.
Lalu akhirnya WestSan membayarnya.
Dan mereka lalu segera bergegas bangkit untuk pergi meninggalkan gerobak oden
itu.
“Ayo kita semangat meraih mimpi
kita masing-masing dan di saat kita kembali kesini kita semuanya sudah sukses.”
Ucap Konishi dengan semangat.
“Kau benar Konishi san, kita
semua harus sukses, hmm ngomong2 Konishi san ini adalah kartu namaku bila kau
berkenan aku juga ingin meminta kartu namamu.” Ucap WestSan.
Dan mereka bertiga akhirnya saling bertukar kartu nama.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar