Minggu, 01 Januari 2017

Obrolan Warung Oden

Obrolan Malam 3 Author



Di waktu malam yang sepi dan dingin banyak orang cenderung mencari makanan hangat dan juga banyak sekali penjual kaki lima di Jepang di pinggir-pinggir jalan dan banyak penjual oden kaki lima yang disebut oden-ya sebutan penjual tukang oden. Di malam ini, ini adalah cerita tentang 3 orang manusia yang mempunyai pekerjaan yang hampir mirip mereka berkeluh kesah dan juga memberi semangat masing-masing inilah kisah 3 orang tersebut.

Jouraku kanari atau Joukarin itu adalah namanya di dalam perjalanan pulang karena sudah malam dan sedikit lapar dia mampir ke sebuah gerobak oden di pinggir jalan dekat sungai. 

“Paman minta sakenya satu.”

“Aiyoo... ini silahkan...”

“Paman... tolong ini dan itu juga masing-masing dua buah.” Sambil menunjuk makanan Hanpen dan Ganmodoki.

“Haah..” sambil menghela nafas.

Terlihat Joukarin sangat-sangat lesu dan dia meminum sake sambil memandangi oden nya yang belum dimakan. Terlihat lesu dan gelisah tapi juga ada raut ekspreksi wajah terpancar di wajahnya


Kanase Smith disebut juga WestSan juga menghampiri gerobak oden itu. Dia juga sedang dalam perjalan pulang. 

“Paman minta sake nya satu.”

“ Aiyoo...”  Sambil memberikan botol sake.

“Hmm malam dan dingin-dingin sepertinya sake hangat memang yang terbaik.” Ucap WestSan.

“........” Joukarin hanya diam saat WestSan bicara.

“Iyakan paman sake hangat dan juga makan oden adalah yang terbaik.” Sambil tersenyum dia mencoba mengajak paman penjual oden.

“Hnhnhnn.... memang sake adalah penghangat tubuh terbaik.” Jawab paman penjual oden itu sambil tertawa.

“Huuh berisik sekali tak bisakah kau tenang sedikit?” Joukarin yang setengah mabuk tidak suka dan berbicara setengah menantang ke WestSan.

“Hahaha... maaf ini memang salahku, tapi sepertinya kamu ada masalah?  Apa yang membuat mu tak senang?” tanya WestSan.

“Itu bukan urusan mu!, kau terlalu banyak bicara! Jangan sok akrab denganku!.” Bentak Joukarin.

“Haha iya benar seharusnya aku tak boleh begitu, aku hanya ingin menghilangkan rasa penatku jadi kupikir bila ku berbicara dengan seseorang mungkin akan membuatku bisa sedikit senang dan bisa melepaskan stressku.” 

“Uruslah urusanmu sendiri...” dengan ketus Joukarin berbicara dengan WestSan.

“Aarggh aku tidak mau menulis lagi, aku mau liburan, aku mau bermain game, aku mau pergi ke akibahara dan bertemu dengan maid chan yang imut, dan jalan-jalan keluar negeri, aku sudah lelah menulis....” 

“Dasar berisik, apa kau sungguh tidak bisa diam dan tenang?” tanya Joukarin.

Dengan spontan WestSan menepuk pundak Joukarin.

“Hei... kau tahu aku sudah lelah dengan apa yang diperintahkan editorku, dia memaksaku membuat light novel lagi disaat buku penjualan volume 2 ku berjalan baik dan sudah terjual hampir 200.000 eksemplar. Aduhhh...., apa yang sedang dipikirkan editorku untuk membuat seri baru apakah dia memang mata duitan.” Keluh  WestSan kepada Joukarin.

“Dasar kau pemalas!” Joukarin bangkit lalu memegang kerah bajunya WestSan.

“Paman minta sakenya satu.”

“Aiyoo...”

“Manusia itu hidup harus bekerja, harusnya kau bangga dan bersyukur bahwa editormu sangat berharap dan selalu percaya kepadamu hingga kau disuruh membuat seri baru lagi.” Joukarin melepaskan kembali baju nya WestSan dan kembali duduk sambil meminum sakenya.

“Kau tahu aku sangat kesal dan sedih hingga tak tahu apa yang harus kulakukan. Manga yang kubuat terus turun dalam polling angket baru-baru ini. Dan aku baru membuat 12 chapter dan disuruh mengakhirnya dengan 3 chapter .”

“Ini ketiga kalinya aku mengakhiri seri manga yang kubuat, sangat sedih dan kecewa aku selalu berharap mempunyai seri yang berlangsung lama hingga ratusan chapter. Tapi kenyataan itu pahit bila manga mu tak disukai dan angket turun maka serial itu akan harus segera diakhiri.”

“Aku tak tahu engkau seorang pembuat manga, siapa namamu sensei?”

WestSan dan Joukarin kaget dan melihat orang yang duduk di pinggir WestSan.

“Sejak kapan kau berada disitu?” tanya WestSan.

“Eh aku sudah lama berada disini apakah kau tidak sadar.” Jawab Konishi.

Konishi Itoh Itulah namanya dia sudah ada sejak Joukarin marah-marah kepada WestSan.

“Ahsudahlah, tak penting lagi paling kau juga mungkin tidak pernah dengar nama ini, namaku Jouraku Kanari pen nameku Joukarin.” 

“Wow Joukarin sensei yang itu bukan, hmm... oh iya aku ingat! pembuat manga Love love Pantsu Imouto. Aku sangat senang bisa bertemu pengarang favoritku disini.” Ucap Konishi dengan mata berbinar-binar dan sangat gembira.

“Sensei  karyamu sangat bagus aku juga sangat suka gambarnya dan teknik menggambar pantsunya benar-benar sangat bagus. Sensei benar-benar seorang panchira sejati.” Ucap westSan memuji.

“Kau terlalu banyak memuji. Tapi, walau begitu Love love Pantsu Imouto adalah karya terbaikku dengan penjualan volume 1 dan 2 yang cukup bagus. Yah, aku sangat merasa puas kala itu hingga aku berusaha membuat manga yang lebih baik lagi. Tetapi di manga selanjutnya kualitasku malah terus menurun.” Ucap Joukarin dengan sedih.

“Aku juga sebenarnya sangat bersyukur dan senang editorku menyuruh membuat light novel lagi. Tapi, aku sedang dalam kebuntuanm aku tak bisa berpikir untuk bab selanjutnya apalagi untuk membuat seri light novel baru. Aku benar-benar merasa lelah dan ingin merasa bebas dan santai melakukan apapun selain menulis.” Ucap WestSan dengan sedih sambil menghela nafas panjang.

“Sensei kau seorang penulis light novel juga, boleh ku tau namamu sensei?” tanya konishi.

“Namaku Kanase Smith tapi kalau di light novel aku memakai nama WestSan.” Jawab WestSan

“WestSan! Oh aku ingat dia juga pengarang favoritku, light novelnya kalau tak salah berjudul ‘nazeda Watashi wa betsu no sekai ni wa ōku no utsukushī josei ga aru koto o sekai ni nozonde iru hitsuyō ga arimasushi, watakushijishin’. Ucap Joukarin.

“Sensei kau hebat bisa sampai ingat judul sepanjang itu, benar-benar membuatku terharu sensei.” Ucap WestSan dengan gembira penuh haru.

“Tidak juga, itu karena aku memang benar-benar suka light novel mu sensei sangat lucu komedinya benar-benar bagus sensei.” Ucap Joukarin dengan sedikit penuh malu-malu.

“Wow kalian benar-benar orang hebat apa dayaku hanya seorang ilustraror animasi yang bergaji rendah.” Ucap konishi dengan lesu dan sedih.

“Kau tak usah berkecil hati kawan, ngomong-ngomong siapa namamu? Maaf aku sampai lupa menanyakannya.” Ucap WestSan.

“Aku Konishi Itoh, dulu sebelum jadi ilustrator animasi aku sempat jadi asisten mangakaka selama 2 tahun.”  Jawab Konishi.

“Konishi ito, hmm aku ingat kau pernah membantuku waktu dulu saat membuat ilustrator light novel! Hmm tunggu sepertinya aku lupa-lupa ingat.” Ucap WestSan sambil berpikir keras.

“........... Oh iya!” Bentak WestSan

Konishi dan Joukarin pun kaget dibuatnya oleh WestSan.

Lalu WestSan menjelaskan kepada mereka berdua kenapa dia bisa kenal Konishi Itoh.

“Jadi begini saat itu editorku sedang dalam perjalan pulang dari kantor penerbit, lalu dia melihat ada orang setengah mabuk dan langsung menghampiri orang tersebut. Lalu dengan iseng editorku menanyakan orang itu begini. ‘Hei kamu bisakah mengggambar seorang gadis cantik yang seksi buatku nanti kalau bisa kuberi 5.000 yen untukmu.’  Lalu singkat cerita dia menggambar langsung apa yang diminta editorku. Setelah gambarnya selesai dia sangat kagum dan menanyakan namanya dan sekalian membubuhkan tanda tangan digambar tersebut. Lalu, dia memberinya hanya 2500 yen dan langsung kabur.”

“Ahh! Aku baru ingat, itu seperti mimpi yang aneh aku memang waktu itu pergi ke suatu sempat dan sepertinya aku sedang ada masalah yang membuat ku sangat sedih lalu kuputuskan untuk pergi minum-minum dan di saat perjalan pulankg aku seperti sedang menggambar tapi aku tidak begitu ingat, dan begitu bangun pagi aku mau mengganti baju tiba-tiba ada uang di kantong bajuku sekitar 2500 yen, aku tak terlalu berpikir aneh-aneh aku menganggap itu hanya uang kembalian.” Ucap konishi kaget sembari menjelaskan kronologinya.

“Ahh, aku sangat malu apa yang dilakukan oleh editorku, Aku minta maaf Konishi san.” Ucap WestSan sambil menundukan kepalanya menghadap ke Konishi.

“Tidak apa-apa sensei, aku juga sudah melupakannya, lagian aku sekarang sedang sibuk untuk menggambar  scene ilustrasi untuk project anime Kakumei no Hareem, jadi aku tidak begitu memikirkannya lagi.” Ucap konishi sambil memegang WestSan untuk tidak perlu menundukan kepala.

”Aargghh! Karya mantan asistenku sekarang sudah menjadi anime, aku sangat iri sekali, kapan mangaku bisa jadi anime.” Ucap Joukarin dengan penuh sedih dan sedikit terlihat kecewa.

“Semangat sensei, mungkin karyamu selanjutnya akan menjadi anime dan akan terus berlanjut menjadi seri yang akan bertahan lama.” Ucap WestSan sambil menepuk pundak Joukarin.

“Kamu benar WestSan, aku harusnya tidak depresi dan terus bekarya membuat yang  lebih baik lagi dari seri sebelumnya.” Ucap joukarin dengan semangat.

“Aku juga harusnya jangan mengeluh, walaupun minggu-minggu ini banyak retake tapi bukan alasan untuk melarikan diri aku harusnya bangga bahwa aku juga bisa berkontribusi untuk anime yang bagus.” Ucap Konishi yang tak mau kalah dan juga terpancar aura semangat di matanya. 

“Kau benar Konishi san, jangan  menyerah bersemangatlah aku yakin suatu saat usaha dan kerja keras tidak akan mengecewakan apalagi kau masih muda,  bersemangatlah Konisihi.” Jawab WestSan dengan Menepuk pundak Konisihi.

“WestSan sensei! Joukarin sensei, suatu saat bila karyamu menjadi anime aku akan membantumu dengan sepenuh hatiku.” Ucap Konishi dengan senang.

“Hahahaha, semoga itu bisa terwujud terimakasih Konishi san.” Ucap Joukarin Sensei.

“Ayo kita bertiga bersulang untuk merayakan Kembalinya semangat kita yang hilang.” Ucap WestSan sambil memegang gelas sake tinggi-tinggi.

“Aku jadi teringat tentang Liu Bei, Zhang Fei, Dan Guan Yu yang saling bersulang arak dibawah pohon persik dan akhirnya mereka jadi saudara, hahaha.” Ucap Joukarin sambil ketawa.

“Kau benar sensei tapi bedanya disini kita ada dibawah tenda gerobak oden, hahaha.” Ucap konishi dengan senang.

Dan akhirnya mereka beritga pun bersulang sake.

“Kaanpaaaiiii...”

“Anooo tuan-tuan sekalian hari sudah makin malam dan aku harus segera menutup dagangan dan kembali pulang.”

“Oh maaf paman kami akan segera pergi, jadi berapa semuanya biar aku saja yang bayar semuanya.” Ucap WestSan dengan senang

“Sensei tidak usah repot-repot biar aku saja yang bayar punyaku sendiri.” Ucap Konishi.

“Iya WestSan sensei kau tidak perlu seperti itu, aku bisa membayar punyaku sendiri.” Ucap Joukarin.

“Tidak apa-apa, aku hari ini sangat bahagia bisa bertemu kalian berdua, tolong biar aku saja yang bayar.” Ucap WestSan dengan sedikit memaksa.

“Baiklah WestSan sensei  kalau begitu memaksa, maaf merepotkanmu.” Ucap Joukarin.

“Aku juga teriamaksih sensei.” Ucap Konisihi.

Lalu akhirnya WestSan membayarnya. Dan mereka lalu segera bergegas bangkit untuk pergi meninggalkan gerobak oden itu.

“Ayo kita semangat meraih mimpi kita masing-masing dan di saat kita kembali kesini kita semuanya sudah sukses.” Ucap Konishi dengan semangat.

“Kau benar Konishi san, kita semua harus sukses, hmm ngomong2 Konishi san ini adalah kartu namaku bila kau berkenan aku juga ingin meminta kartu namamu.” Ucap WestSan.

Dan mereka  bertiga akhirnya saling bertukar kartu nama.

“Mungkin ini hanya pertemuan singkat saja, tapi aku sangat menghargai waktu mengobrol dengan kalian berdua.” Ucap Joukarin.

“Aku juga sensei.” Jawab WestSan.

“Aku pun juga merasakan hal sama sensei.” Jawab Konishi

Lalu mereka mengucapkan selamat tinggal dan pulang kerumah masing dengan semangat yang baru.

                                                                            

                                                                                END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar